Kamis, 14 Juli 2011

JANJI NATAN


 

“Dwi, ayo bangun ! Katanya mau ke pelabuhan !?“ 
Pagi harinya, Dwi terbangun oleh suara ibunya. 
     “Oi ! Pelabuhan !“
Dwi membuka kelopak matanya, menyipitkan mata menembus keremangan lalu menguap
     ”Kalau tidak cepat, Natan bisa menunggu lama”
Dwi mengangguk, tidak diingatkan pun Dwi pasti tau dan tidak akan lupa.
     Hari ini, tepatnya tanggal 15 April, Natan akan datang ke Makassar. Setelah lama tak terdengar kabar darinya, tiba-tiba saja muncul surat Natan yang mengatakan akan datang ke Makassar. Dan Dwi sudah terlalu rindu untuk itu.
     Dulu, Dwi sering menghabiskan waktunya bersama anak teman mamanya. Natan, anak laki-laki bermata elang. Pada Natan pula, Dwi sering bergurau, bermain , membuang kepedihan dan juga tempatnya mengadu. Satu-satunya orang yang mampu menghiburnya disaat ayahnya meninggal akibat kecelakaan. Tapi itu dulu, sebelum Natan pindah ke Samarinda tempat ayahnya dimutasikan. 
      ”Keluargamu jadi pindah ?” Tanya Dwi sedih saat itu.
     ”Iya, tapi Dwi tidak usah sedih” Hibur Natan padanya. ”Natan janji akan selalu ingat dan sayang sama Dwi biarpun ada di Ujung Kulon”
     ”Huuu...” Dwi mencibir dan mendaratkan tinjunya di lengan Natan.
    ”Yee....nggak percaya lagi. Sebagai buktinya nih kita tukeran gelang saja. Gelang aku buat Dwi, gelang Dwi buat aku. Deal !??”
     Kadang tanpa sadar, Dwi berteriak panik jika tidak memakai gelang Natan. Kalau hilang pastilah Natan akan marah trus ngomel-ngomel kalo Dwi tidak setia. Dwi tersenyum malu. Kalo ingat janji itu, Dwi jadi semakin rindu pada Natan. Sudah lima tahun lamanya mereka tidak bertemu. Sejak janji masa kecil itu. Kira-kira wajah Natan seperti apa ya....?

     Di pelabuhan, Dwi melayangkan pandangannya ke segala penjuru, mencari-cari sosok Natan yang katanya akan mengenakan baju biru kotak kesukaannya. Mendadak langkah Dwi terhenti. Tak jauh dari tempatnya berdiri seorang cowok berkulit putih, keren dan berbaju biru kotak yang juga sedang terdiam menatapnya, Dwi seperti tidak percaya. Berulang kali menarik nafas, mengatur detak jantungnya.
     ”kamu....Natan ?” tanyanya gugup.
     ”lama tak jumpa Dwi”
    Benar, ini memang sosok Natan yang ia nantikan. Natan sudah dewasa, itu sudah pasti. Hanya yang tidak berubah adalah mata elangnya yang tetap membuat Natan terlihat keren seperti dulu. Juga gelang janji masa kecil masih melingkar di tangannya.
Begitupun denganku Nat, gelang ini masih aku pakai. Batin Dwi.
Tapi....sepanjang perjalanan menuju rumah Dwi, Natan kebanyakan terdiam. Dwi juga diam, tidak tahu harus bagaimana. Sebenarnya Dwi ingin blak-blakan mengungkapkan rasa gembiranya. Tapi takut Natan beranggapan yang tidak-tidak padanya.
     ”Eh, Nat kamu libur ya ?”
     ”Iya” jawab Natan pendek
     ”Tapi kan ini baru awal semester belum saatnya libur kan? Hayo...kamu pasti bolos ?”
     ”Nggak,” Dwi terdiam, sejak di pelabuhan tadi sepertinya Natan tidak senang bertemu dengannya. Perangainya juga aneh, setiap kali ditanya jawabannya pendek-pendek. Cerita kek gimana di Samarinda. Atau...Cuma Dwi yang terlalu meletup-letup. Apa iya ?
Entah berapa lama suasana dingin ini berlangsung kalau saja Hp Natan tidak berdering.
     ”Hallo, iya Natan sudah sampai. Iya, ini juga dalam perjalanan ke rumahnya.” Dwi menoleh, siapa gerangan yang berbicara dengan Natan ?
     ”Sudah ketemu kok. Iya, Natan akan bersikap baik. He-eh, aku tidak akan nakal, aku ini kan sudah gede, iya...iya, ada kok.”
     Dwi semakin penasaran, membuatnya ingin nyeletuk bertanya siapa yang menelpon. Tapi Natan keburu menyerahkan Hp-nya.
     ”Ada yang mau bicara”
Ragu-ragu Dwi mengambil Hp Natan.
     ”Eh, hallo ini siapa ? Oh...om Mulyas..!” Oh...itu diucapkannya dengan perasaan lega. Bagaimana jadinya jika saja Natan tahu dirinya terlalu curiga dengan si penelpon yang ternyata adalah ayah Natan.
     ”Pindah sekolah ? Natan pindah ke Makassar ?” setengah berteriak Dwi karena terkejut. Belum sempat ia bertanya lebih lanjut, Natan sudah menyambar Hp itu dari tangannya.
      ”Ayah tidak mau kan pulsa Ayah habis !? ya sudah, bye ayah ”
Tut..tut..tut..tut.
     ”Jadi, benar kamu akan pindah ke Makassar ?” mata Dwi berbinar senang.
     ”Cuma sekadar uji coba”
     ”Maksudnya ?”
     Ditanya bgitu Natan hanya membuang muka ke sisi lain. Aneh! Kelakuan Natan benar-benar aneh. Jauh berubah dari Natan yang dulu selalu jujur dan polos.
     ”kapan kita sampai ?” Sekarang, ia juga pintar mengalihkan pembicaraan.
     ”Sebentar lagi sampai !”
     ”Oh..”
     Dwi maklum jika Natan tidak ingin urusannya di campuri. Dwi juga maklum Natan ber oh – oh saja. Jadi Dwi ikut diam saat mereka menunggu mamanya membukakan pintu rumah.

     ”Selamat sore, tante !”
     ”Akhirnya kamu datang juga Natan. Bagaimana keadaan ayahmu ?”
     ”Loh..bukannya tante sering ketemu !?” Mama Dwi kemudian tertawa.
Dan Dwi? Kini Dwi sibuk bergulat dengan batinnya yang dipenuhi pertanyaan.
     ”Oh iya, Dwi kamu tunjukkan kamar Natan. Karena mulai hari ini dia kan tinggal bersama kita. Dan juga jangan lupa besok ke sekolahnya bareng Natan. Kalian sekelas !”
Tanpa banyak bicara Dwi melakukan perintah mamanya. Menunjukkan kamar Natan, menjelaskan posisi-posisi ruangan dalam rumah dan juga berangkat ke sekolah bareng Natan.

     ”Selamat pagi, kenalkan nama saya Natan Gazali dari Samarinda”
Pagi itu Natan disambut meriah seluruh penghuni kelas termasuk para kaum hawa. Ingat itu Dwi pengen nangis. Kenapa pertemuan ini jauh dari hal yang selalu dibayangkannya.
     ”Beneran nih, Dwi ?” tanya Retya, sahabat karibnya.
     ”Seperti yang kamu lihat !”
     ”Tapi kok hambar gitu ? bukannya senang bisa bersama lagi seperti dulu. Bagus kan !”
Dwi Cuma menaikkan bahu.
     ”Gimana sih... sudah 5 tahun nggak ketemu dan yang menjembatangi hubungan kalian Cuma surat doang. Tapi kok pertemuannya biasa-biasa saja. Seperti 2 orang yang tak saling kenal. Aneh!”
    ”Aku juga bingung, kadang-kadang aku senang bisa bersama lagi kemudian perasaan itu malah membuatku sakit hati, karena Natan tidak senang bertemu denganku” jawab Dwi pilu.
    ”Kira-kira kalian berhenti surat menyurat sejak kapan ?”
    ”Sejak 2 tahun lalu, Natan tidak membalas suratku yang terakhir, memangnya kenapa ?”
    ”Apa pacarnya ngelarang, yach...?”
    ”Natan nggak punya pacar !” Dwi mendelik sewot
    ”Kamu yakin....?”
Dwi merenung. Bagaimanapun gelang ini adalah bukti bahwa Dwi masih ingat Natan dan Natan pun begitu. Rasanya terlalu riskan jika pacarnya melarang hanya karena surat dari sahabat semasa kecil Natan.
    ”Kepikiran terus ? cemburu ya..?”
    ”Setan ! Aku gak cemburu kok. Lagian kami punya bukti gelang yang mengikat persahabatan kami masih ada, nich..” buru-buru Dwi memperlihatkan gelang ditangannya.
    ”Baguslah kalo kamu masih pake gelang butut itu ”
    ”Kamu tidak mengerti arti gelang ini ”
  ”Yah..aku juga berharap Natan tahu arti gelang itu karena yang kulihat dianya nggak pake”          
    ”Bohong..!”
    ”Suer ! ” Retya menaikkan ke dua jarinya membentuk huruf V.
    Berarti.... Ah tidak mungkin Natan melepaskannya. Itu tidak benar kan ? batinnya sedih. Begitu mendengar penuturan Retya, Dwi jadi tak tenang. Perasaannya mulai tidak nyaman. Jika ada yang tanya saat ini siapa yang paling was-was? Tentulah Dwi. Rasanya tidak percaya kalau belum memastikan dengan mata kepalanya sendiri.
    ”Natan !” Didapatinya Natan diantara siswa-siswa yang berjubel di kantin.
   ”Oh, kamu toh. Ada perlu ?”
   ”Ternyata memang benar”
    ”Hah ??”
    Air mata Dwi mendadak keluar. Tidak sanggup melihat pergelangan tangan Natan yang kosong tanpa memakai gelang. ”Mana gelangmu, kemarin masih ada kan ?” Masih terisak-isak ia menanyakan gelang Natan.
    ”Oh..gelang itu ? Aku tidak sengaja menjatuhkannya di parit depan rumahmu. Mungkin sudah tenggelam atau terbawa arus parit !”
     ”Tega kamu, kenapa tidak berusaha dicari. Itu kan bukti janji kamu ke aku”
    ”Dwi...Dwi..., itu kan Cuma gelang yang udah dekil. Masa harus dicari mati-matian? Bisa diganti kan !?”
    Dwi tersentak, tidak menyangka Natan akan berkata seperti itu. Padahal Natan yang dulu tidak begini. Natan tidak akan membiarkannya menangis juga tidak akan membiarkannya berdiri mematung sementara Natan sibuk menikmati jajanan kantin.
    ”Nat, aku lagi bicara ”
    ”Aku juga lagi makan, nggak liat apa ?” gumamnya pelan tapi terdengar seperti ditekan disertai dengan nada kesal.
    ”Kamu kenapa sih ? apa kamu sudah lupa punya janji sama aku ?” Dwi mendengus kesal ”Apa susahnya bilang kalo kamu sudah lupa. Kamu tidak bisa ngomong ?”
    ”Iya, aku lupa. Puas..!"
    Dwi jadi gemas mendengar kata puas itu. Tak tahan, segera Dwi merampas mangkok bakso Natan dan membiarkan mangkok itu jatuh berkeping-keping di lantai. Tidak diperdulikan lagi berpuluh-puluh pasang mata sedang terkesima menatap mereka.
    ”Egois ! sebenarnya salah aku apa ?”
    Natan tidak segera berkata apa-apa. Ia malah menghembusksn napas keras-keras seolah ingin melepas sesuatu dari dalam dadanya. ”Cewek manja sepertimu tidak akan pernah ngerti !”
Hening. Masih hening ketika Natan menatap tajam kearah Dwi sebelum meninggalkannya yang masih diam terpaku.
Kenapa kamu tidak seperti aku, Nat. 
    Setelah sekian lama tidak bertemu, kenapa reaksi Natan biasa-biasa saja, tidak seperti dirinya yang amat bahagia. Kenapa tidak pernah tercetus sekali saja kata-kata kangen. Kenapa yang ia dapat adalah sosok Natan yang terus menghindar, menyibukkan diri di dunia basket, ikut berbagai kegiatan di sekolahnya. Setiap bertemu seperti 2 orang yang tidak saling kenal.
    Padahal tak satupun yang tahu. Bahwa sebenarnya ada rasa rindu yang Dwi simpan rapat-rapat dalam hatinya. Rasa kangen yang tidak tersampaikan dan terhalang oleh jarak Makassar – Samarinda.

                                                                         ***

     Hanya ini yang bisa kulakukan, gumam Dwi sedih, duduk di tepi parit merenungkan kemungkinan yang menyedihkan. Sementara matanya tak luput mengawasi setiap sudut parit. Kalau bukan karena gelang itu, tidak mungkin Dwi betah duduk sementara langit terlihat mendung. Dwi sadar, tidak ada yang menjamin gelang itu tidak terbawa arus.
    ”Sedang cari apa ?” sebuah suara yang cukup dikenal membuat wajahnya pucat pasi.
    ”Gelang lagi ? sudah kubilang tidak akan ketemu ”
    ”Biarin ” Gumamnya tanpa menoleh.
    ”Sebentar lagi hujan. Nggak sayang apa badan hujan-hujanan hanya karena gelang dekil ”
    ”Bukan urusanmu”
   ”Terserah ! Anak manja sepertimu memang percuma dinasehati” Dwi terhenyak. Semprotan itu benar-benar di luar dugaannya.
    ”Ah, aku sudah tahu seperti apa watak cowok sepertimu !” Balas Dwi mengejek. “Sejak awal aku tidak berharap simpatimu (padahal Dwi sangat berharap). Aku malah muak melihatmu yang mengubah imej secara asal-asalan. Cowok sok suci yang taunya Cuma mengumbar janji palsu”     
    “Kalau sudah tau itu janji palsu, kenapa masih berharap !?” Kata Natan tiba-tiba. ”Kalau aku jadi kamu, aku akan berpikir 2 kali untuk berharap. Masa bodoh dengan janji masa kecil. Aku tidak peduli kalaupun gelang itu kamu dapat atau tidak. Dasar anak manja ”
    Dwi menggigit bibir, mencoba menahan butir-butir air matanya yang seperti akan tumpah. Tak tahan rasanya diperlakukan seperti itu.
    ”Lupakan saja !”
Dwi sedikit tersekat ”Maksudmu ?”
    ”Ya... janji itu , terlalu bodoh untuk diungkit-ungkit. Jadi...mendingan gak usah ”
    ”Kamu yang berjanji, kamu ingat kan ? Nat, lima tahun aku menunggu, apa artinya kalau janji itu kamu buang ? Apa hah ? Apa kamu pura-pura sayang aku dan setelah bosan, kamu......” Dwi tak mampu meneruskannya.
    ”Bukan begitu ” Seru Natan dengan suara bergetar. ”Aku...tidak bisa menjelaskannya ”
    ”Kamu jahat ”
    ”Sejak dulu aku memang jahat ” Sergah Natan.
 Lalu dengan satu tarikan napas, ditinggalkannya Dwi.
    ”Nat. Natan...! ” Teriak Dwi. Orang yang dipanggilnya diam saja. Seperti tidak mendengar panggilannya. Hati Dwi kacau. Sekarang, setelah semuanya jelas, yang ia rasakan hanya rasa sakit seperti dicabik-cabik. Membuatnya menangis.

                                                                               ***
    Dwi tengah bersiap-siap dengan seragam putih birunya. Setelah kejadian kemarin, Dwi memang syok. Matanya sembab karena menangis. Tiba-tiba Dwi terpaku lama menatap meja rias yang ada dalam kamarnya. Dwi menjerit memanggil mamanya.
    ”Dwi, ada apa ini ? Pagi-pagi sudah ribut ” Sosok mamanya tiba-tiba berdiri dibelakang
    ”Mama liat gelang aku, nggak?” Mama menggeleng
    ”Benar ?”
    ”Benar, mama nggak bakalan berani mengambil milik Dwi”
    ”Jadi siap yang mengambil gelang Dwi ? di rumah ini Cuma ada aku, mama, dan .... ” Sesaat perasaan Dwi di rayapi kegelisahan. Tergesa Dwi melangkah ke kamar Natan. Tapi Natan tidak ada. Di tempat lain juga tidak ada.
    ”Ada apa, Dwi ?”
    ”Natan.....” Dwi merasa kerongkongannya tersekat.
    ”Kenapa dengan Natan ?”
    ”Dia yang mengambil gelang Dwi !”
    ”Sudahlah, Dwi. Barangkali gelangmu tercecer di sekolah”
    ”Nggak mungkin, ma. Gelang itu hilang di atas meja rias. Dwi simpan disana waktu pengen mandi ” Dwi mulai terisak.
    ”Tidak baik berprasangka buruk pada Natan. Kalian kan akrab sejak kecil. Lebih baik bicarakan baik-baik dengan Natan, mungkin Natan pernah melihatnya.”
    ”Tapi, ma...”
   ”Natan sudah berangkat ke sekolah. Cepat-cepat disusul nanti terlambat, ya ?” Mama meraih tangan Dwi lembut seraya tersenyum.
    Dwi mengangguk, berusaha menenangkan jiwanya. Tapi tetap saja di sekolah dia tidak dapat belajar dengan baik. Pikirannya hanya tertuju pada gelang dan juga Natan. Sempat diliriknya Natan yang asyik membaca buku seni sastra kemudian berkali-kali menggumam. Bukan ! Natan tidak mungkin mengambilnya ! gelangnya yang hilang tidak dipedulikan apalagi gelang Dwi. Nggak mungkin ! Berbagai pikiran buruk ditebasnya. Walaupun begitu, air matanya tetap keluar. Dwi sedih, tidak mengerti kenapa Natan bisa berubah kasar. Padahal dulu, Natan begitu menyayanginya.
    ”Dwi...!” Dwi tersentak sembari menyusut air matanya ketika suara Retya menggema. ”Kenapa sih ?”
Dwi tersenyum sumbang. ”Nggak apa-apa kok ”
    ”Soal Natan lagi ?” Dwi terdiam tapi Retya tauk itu pasti ada hubungannya dengan Natan. Dwi gembira karena Natan, sedihpun karena Natan. Selalu begitu !
    ”Dwi cerita dong, biasanya Dwi selalu antusias curhat sama Retya” Bujuknya pelan membuat Dwi terisak-isak.
    ”Natan...” bisik Dwi
   ”Iya, cowok brengsek itu kenapa lagi ?” ”Aku pusing Tya. Aku udah capek memikirkan kenapa Natan berubah sama aku, tidak seperti dulu lagi. Dia bilang sudah lupa janji itu, tapi saat aku minta penjelasan, dia tetap diam. Trus pagi tadi..gelang aku hilang ” ceritanya. 
    ”Dan kamu berpikir Natan yang ambil, begitu ?” Dwi mengangguk 
    ”Sudah tanya Natan ?” 
    ”Belum ” 
    ”Berarti belum jelas kan, dia yang ambil, mungkin tercecer !?” 
    ”Nggak mungkin. Aku tidak mungkin teledor menghilangkan gelang masa kecilku. Kamu tauk kan arti gelang itu buat aku ? lagi pula... di rumah cuma ada 3 orang, mama jelas-jelas bukan ” 
    ”Lebih baik kalian bicara baik-baik !” 
    ”Aku belum siap ” Dwi menyeka air matanya. 
   ”Kalau begitu aku usahakan bicara dengan Natan. Yakin tidak mau ikut ?” 
   ”Nggak ” Dwi melongokkan wajah lewat jendela kelas, melihat Natan menuju kantor kepala sekolah. Tadipun dia melihatnya begitu. ”Aku nggak yakin bisa bertemu Natan” 
Saat ini Natan sudah membuatnya sedih dan Dwi ingin menenangkan diri dulu. 
   ”Jangan sedih, pasti deh masalah kalian bakal beres ” 
   ”Mudah-mudahan ” 

                                                                           *** 
    Jam istirahat, Dwi terlihat gelisah. Dwi tidak melihat sosok Natan. Sampai bel pulang sekolah berdentang, ketika keluar dari pintu kelas, Retya memanggilnya. Retya memandangnya dengan tatapan yang sukar ditebak. 
    ”Siang tadi....aku bertemu Natan” ujar Retya dengan mimik serius. Hening sesaat ”Hari ini Natan pulang, jam penerbangan pertama ! Natan titip surat !” lanjut Retya seraya mengeluarkan kertas yang terlipat rapi. 
    Dwi meraih kertas itu, memegangnya erat-erat. Pelan-pelan Dwi membuka lipatan dan segera membacanya. 

      Dwi, maaf karena selama ini aku sudah menyakitimu. Maaf pula karena benakmu jadi terbebani lantaran janji masa kecil kita. 
     Terus terang aku tidak akan bisa mempertanggung jawabkan janji kita. Yang dapat aku lakukan hanya mengutuk diriku yang tidak pernah bisa menjaga janji sendiri. Maaf, Dwi. 
     Dwi, bertahun-tahun aku tidak membalas uratmu, saat itu ibuku meninggal karena kanker yang dideritanya. Aku terpukul, lebih terpukul lagi saat setahun kemudian aku diberitahu ayah bahwa ia akan menikah. Dengan ibumu ! 

      Dwi menggeleng kuat, tidak percaya. Disampingnya Retya memegang erat tangannya. 

     Aku sayang Dwi. Teramat sayang malah. Tapi bukan perasaan sayang kakak kepada seorang adik seperti yang selalu ayah katakan. Maaf kalau aku yang amat tak tahu diri ini menempatkan cinta terhadapmu. Cinta yang terlarang. 
     Dwi, kuburlah kenangan janji masa kecil kita, sampai aku siap dipanggil kakak olehmu. Minimal, mulai besok tak ada lagi yang akan menambah bebanmu. Aku pamit, Dwi.  


     Sementara Dwi menangis, jauh diseberang lautan, Natan sedang diam menatap dua buah gelang masa kecil yang menghiasi pergelangan tangannya.
     ”Selamat tinggal, Dwi !”

0 komentar:

Posting Komentar